Keeping Up Your Digital Startup!

Bagikan:

Sesuai judul artikel, kali ini saya akan cerita tentang bagaimana menjaga startup agar tetap hidup. Jika kalian salah satu inisiator startup terutama di bidang digital, tentunya harus tahu how to keeping up your digital startup!

Yang paling berat bukan memulainya, tetapi menjaganya

Kalimat di atas menjadi panduan kita ya nanti dalam pembahasan ini. Dalam semua hubungan sekalipun, hal tersebut berlaku loh 😀

Cerita ini berdasarkan pengalaman pribadi saya ya dalam menjaga startup yang saya miliki yakni Lumpia Studio ini. Berbagai ujian tentunya datang dalam hubungan yang terjalin oleh mahkluk yang bernama manusia.

Nah, berikut beberapa pengalaman yang bisa saya share ke teman-teman semua jika kalian ingin menjaga startup tetap hidup.

Peran Penting Inisiator

Inisiator memegang peran utama bertahan sebuah usaha termasuk startup digital. Seorang inisiator harus mempunyai cita-cita sebagai tujuan ke mana startup akan berjalan. Hal ini nanti terkait produk apa yang akan dikembangkan sehingga bisa mengarahkan timnya.

Peran penting inisiator untuk keeping up sebuah startup
Inisiator adalah sumber ide dan arah tujuan startup (freepik.com)

Seorang inisiator adalah pemimpin karena dia yang memiliki ide awal dengan cita-citanya menjadi tujuan

Pertanyaan yang mungkin muncul di benak kalian mungkin adalah sebagai berikut.

Inisiator harus memiliki harapan, cita-cita, dan passion, serta kemauan yang tinggi untuk menjaganya. Banyak startup yang “mati” hanya karena para pendiri (inisiator) sudah bosan dan menyerah pada kenyataan.

Selain itu, inisiator harus juga punya hardskill teknis dengan segala pengalaman lapangan dalam menyelesaikan project. Setinggi apapun kemampuan manajerial jika tanpa pengalaman lapangan hanya akan menjadi startup idealis yang tak mampu mengetahui kebutuhan user.

Gak harus. Tapi inisiator harus punya pengalaman banyak. Relasi bisa dicari dalam proses perjalanan startup nanti. Relasi memang hal penting dan dapat mempercepat segalanya. Ya ibaratnya dalam dunia nyata tuh kalian punya “orang dalam” untuk masuk ke berbagai lini. Namun, sebagai pemula seperti saya pada saat dulu menginisiasi startup, bagi saya yang penting adalah ada produk dulu sebagai karya.

Tidak harus. Banyak startup digital yang berawal dari mahasiswa kosan dengan budget pas-pasan. Begitu pula studio saya ini. Pada waktu saya memulai, saya memiliki basic hardskill sebagai programmer dengan modal laptop kuliah dan dulu masih menggunakan blogger gratis.

Nah, itu tadi peran penting inisiator startup. Seorang inisiator adalah kunci hidup dan matinya dunia usaha ya, gaes. Jika inisiatornya sudah bosan dan gak ada mimpi yang ingin diwujudkan, berakhirlah sudah.

Integritas Tim

Jika kalian sudah memiliki tim, hal kedua yang perlu dijaga adalah integritas tim tersebut. Bisa jadi kalian akan mengalami hal yang sama dengan saya: personil datang dan pergi silih berganti.

Hal tersebut akan terjadi apabila startup kalian dalam kondisi tidak ada project, kebutuhan hidup yang terus berlangsung, dan tidak ada pemasukan sama sekali.

Inisiator harus tegap berdiri walaupun anggota tim datang silih berganti. Karena inisiator adalah sosok pemegang kunci (startup).

Datang dan pergi anggota tim adalah ujian bagi sang inisiator secara khusus. Itulah kenapa saya tadi menyampaikan inisiator harus punya hardskill teknis tersendiri. Hal terburuk adalah jika semua anggota pergi, setidaknya startup masih bisa berjalan dengan adanya skill dari inisiator walaupun akan sangat lambat karena single fighter.

Jika ada anggota tim pergi saat masih ada project, inisiator harus berpikir taktis dengan cepat: akankah project tersebut tetap dapat selesai dengan personil tim yang masih ada? Jikalau masih bisa terselesaikan, jangan terburu-buru mencari anggota baru.

Pencarian anggota baru yang dapat diajak satu visi dan misi juga susah loh. Gak semudah itu, Ferguso 😀

Integritas tim untuk saling bersinergi dalam menyelesaikan project (freepik.com)

Jikalau terpaksa butuh skill pengganti dari anggota yang pergi, inisiator juga harus berpikir cepat untuk melihat orang sekitar dengan potensi yang dapat menggantikan.

Integritas dapat dikatakan sebagai sifat & kemauan untuk mengemban tanggung jawab yang diberikan dengan dilandasi kejujuran.

Jadi, integritas tim di sini diperlukan karena semua personil bekerja sama untuk menyelesaikan project sesuai dengan tanggung jawab perannya masing-masing.

Kejujuran dan tanggung jawab dari personil masing-masing anggota sangat diperlukan karena jika ada satu peran yang tertunda, bisa jadi peran yang lain jg akan tertunda hingga akhirnya deadline tak terpenuhi. Gagal sudah projectnya.

Gak perlu banyak. Dulu saya hanya memulai dari satu orang yakni saya sendiri sebagai programmer. Karena saya alumni SMK jurusan Multimedia yang dulu juga mempelajari sedikit banyak desain grafis, editing video & audio, alhasil saya untuk beberapa project sederhana masih bisa single fighter dan menyelesaikannya sendiri.

Namun, saat ada project dengan taraf dan tarif profesional, saya harus mencari desainer yang memang sesuai hasil kerjanya dengan apa yang saya harapkan. Dengan demikian mulailah saya melihat potensi desain dari kawan-kawan sekitar saya.

Dan biasanya juga, jika project udah selesai, akan ada anggota yang pergi. Ikhlaskan aja gaes. Kalian sebagai project manager bayar dia sesuai harganya setelah dapat honor ya.

Dan ingat, honor sesuai kesepakatan & kemampuan. Dengan demikian, orang gak akan kecewa dan pasti akan mau jika diajak kerjasama project lagi.

Dalam startup digital biasanya yang paling dominan adalah programmer dan desainer. Programmer sebagai back end, sedangkan desainer sebagai front end.

Namun, jika project memang membutuhkan skill lain seperti 3D modeller, animator, dan sebagainya, berarti memang harus mencari anggota lagi.

Nah, ini susah memang. Apalagi jika anggota tim belum saling kenal. Makanya kebanyakan startup pasti bermula dari anggota yang semuanya sudah saling akrab satu dengan yang lain.

Jika sudah saling tahu kemampuan dan jati diri, akan mudah menyamakan visi misi.

Namun, jika memang anggota tim belum dikenal sama sekali, untuk mengetahui integritasnya bisa dicek dari profil sosial media lah yang paling mudah. Jika memiliki teman yang dekat dengan anggota tim tersebut, bisa ditanyakan juga dari temannya.

Yang terpenting adalah project selesai terlebih dahulu. Jika anggota ingin pergi setelahnya, tak masalah. Biarkan saja asal inisiator masih ada. Dengan demikian startup akan terus hidup.

Karya Dulu, Baru Dana

Karya dan dana adalah dua hal yang memang memberi pengaruh sangat besar pada eksistensi sebuah startup.

Jika kalian pernah mendengar “uang mampu mempermudah segalanya”, bisa dibilang itu memang benar. Namun, bukan berarti harus butuh banyak uang.

Saya dulu memiliki dana sangat terbatas. Dengan laptop dan kemampuan yang saya miliki dan memanfaatkan fasikitas internet gratis yang tersedia di kampus, saya gunakan dana tersebut untuk membeli hosting agar web studio ini bisa online sebagai tempat showcase karya yang saya buat.

Berusahalah lolos proposal pendanaan jika ada (freepik.com)

Saya sebagai inisiator harus punya karya agar bisa memberi pandangan visi misi startup kepada anggota tim yang ada

Saat itu saya hanya membeli hosting paket pelajar yang sudah gratis domain setahun. Kemudian saya tampilkan beberapa karya yang saya miliki.

Jika kalian sudah memiliki karya dari klien dan klien senang dengan apa yang kalian kerjakan, modal pertama untuk menjangkau pasar sudah kalian dapatkan: mulut klien.

Baca juga: PIN Adsense Tak Kunjung Datang? Ini Solusinya

Klien yang puas biasanya akan menularkan nama kalian ke teman-temannya. Dari sinilah proses bisnis kalian berjalan.

Jika kalian bukan tipe orang pemasaran dengan kemampuan sales yang suka promosi seperti saya, hal yang harus kalian lakukan adalah teruslah berkarya.

Tingkatkan kualitas karya kalian. Show up your product and published. Jika belum ada dana untuk membeli hosting, pamerkan karya kalian di sosial media. Sosial media yang gratis dan bisa kalian manfaatkan saat ini memiliki peran penting di abad 21 loh.

Jika kalian belum memiliki privilleges alias keberuntungan sebagai orang berpunya dengan segala relasi yang dimiliki, saya juga dulu demikian, yang bisa kalian lakukan adalah fokus pada karya. Dana akan mengikuti setelah ada karya.

Jika kalian sudah punya karya, dana bisa kalian peroleh dari status penting kalian: mahasiswa.

Semua kampus baik negeri maupun swasta biasanya ada dana untuk pengabdian masyarakat, penelitian, atau kewirausahaan. Jika kepentok kalian memang belum pernah dapet klien, berusahalah lolos proposal untuk pengajuan dana dari kampus ini.

Dana dari kampus tersebut adalah nilai plus. Yang utama adalah relasinya. Jika kalian lolos proposal, kalian bisa terjun ke lapangan dan mendapatkan relasi baru. Dari sinilah kalian bisa menyisipkan karya yang kalian buat.

Status mahasiswa sangat berharga kan? 😀

Untuk menjawab ini, yang perlu kalian ketahui adalah ada dua tipe aliran dana. Pertama, ada dana yang datang karena klien butuh kemampuan kalian untuk membuat karya yang ia inginkan. Kedua, ada dana yang harus kalian self promote karya kalian pada orang lain.

Untuk tipe dana pertama, ini jelas kalian harus mengerjakan project orang lain dan nantinya menerima bayaran sebagai hasil kerja. I think it’s clear, right?

Nah, yang kedua ini yang susah. Dan latihan saya dulu saat masih mahasiswa adalah dengan berusaha lolos pendanaan dari kampus. Jika kalian memang tidak ada keinginan atau belum bisa lolos, kalian masih punya harapan lain asal mau turun stand out di kegiatan luar: komunitas.

Jejaring komunitas juga akan menambah relasi kalian lebih luas. Perlahan kalian bisa ikut nimbrung skill apa yang kalian punya & karya apa yang bisa kalian sumbangkan ke komunitas.

Mungkin, jika kalian sudah punya karya. Crowdfunding dilakukan banyak startup yang sudah melalangbuana agar karyanya bisa ikut dinikmati banyak orang.

Sebagai pemula jangan mata duitan dulu lah ya, punyalah karya dulu dan berikan sesuatu yang bisa kalian sumbangkan kepada orang lain.

Give first, then you may take (freepik.com)

Hukum di dunia tuh give then take ya, bukan take then give

Keeping Up Your Digital Startup, Guys!

Akan selalu banyak ujian yang akan kalian hadapi ya gaes seperti di atas. Tetaplah berusaha, bersabar, dan berdoa. Semua badai pasti berlalu pada akhirnya.

Startup digital memegang peran signifikan loh gaes di abad yang penuh teknologi ini. Saya harap kalian juga tetap menjaga apa yang sudah kalian mulai.

Jangan biarkan keadaan membuat kalian tumbang, apalagi sampai mimpi dan cita-cita hilang

Nah, demikian share pengalaman dari saya tentang Keeping Up Your (Digital) Startup. Jika masih ada yang ingin ditanyakan dan mungkin belum saya bahas di atas, bisa langsung saja disampaikan di kolom komentar.

Sekian dan jaga terus startup kalian akan tetap hidup ya 🙂