Hari Pahlawan : Kucinta Pahlawan, Pahlawan Cintaku

Bagikan:

Tak canggung lagi, hari ini yakni 10 November 2016 merupakan salah satu hari bersejarah bagi rakyat Indonesia yang juga harus dikenang disela-sela hari kemerdekaan pada bulan Agustus kemarin. Kemerdekaan tak akan bisa diraih tanpa perjuangan para pahlawan dan oleh karena inilah hari ini disebut Hari Pahlawan.

Soekarno (Kusno)
Soekarno (Kusno)
Hari Pahlawan

Peringatan Hari Pahlawan dilakukan setiap 10 November bermula dari pertempuran yang terjadi di Surabaya saat perjuangan melawan penjajah tepat pada 10 November 1945. Dalam Wikipedia Indonesia dijelaskan bahwa pertempuran di Surabaya yang terjadi saat itu merupakan pertempuran pertama pasukan Indonesia dengan pasukan asing setelah dilantunkannya Proklamasi Kemerdekaan RI. Di sini saya tidak akan membahas banyak cerita pertempuran Surabaya karena kalian bisa cek langsung di Wikipedia sebagai sumber terpercaya dan jangan tengok-tengok situs penyebar provokasi ya hehe.

Bahasan saya pada artikel ini terdapat pada gambar di atas, tepat pada gambar setelah preambule yang tampil di halaman ini. Bisa kalian jelaskan apa istimewanya sehingga saya akan membahasnya?

Okeh, capcus ke inti. Sekilas jika kalian perhatikan, kalian akan tahu gambar siapa yang terpajang di sana kan? Yup, beliau adalah salah satu bapak bangsa kita yakni Soekarno atau lebih akrab Bung Karno yang suaranya meliuk-liuk setiap hari kemerdekaan datang dengan lantunan teks proklamasinya.

Lihatlah gambar dari atas, kalian akan menemukan nama yang jarang sekali dijelaskan guru sejarah kalian. KUSNO, ya begitulah namanya. Kusno adalah nama saat Bung Karno masih kecil. Lebih lengkapnya nama lahir beliau adalah Koesno Sosrodihardjo. Jika kalian pernah menonton film Soekarno di layar lebar (bioskop) kalian akan menikmati sajian sekilas tentang pergantian nama Kusno menjadi Sukarno.

Dalam film tersebut, Kusno sering sakit-sakitan. Sakit yang dialami Kusno bahkan sudah lebih dari dua bulan dan selama itu pula sang ayah, Soekemi Sosrodihardjo, tidur di bawah dipan tidur Kusno dengan berharap penyakit yang diderita anaknya akan berpindah ke tubuhnya. Sang ayahanda pun akhirnya memutuskan untuk mengganti nama anaknya menjadi Soekarno.

Film Soekarno
Sudjiwo Tedjo (kiri) dalam film Soekarno sebagai ayah Koesno (kanan)

Lanjut ke teks berikutnya yakni pada kalimat berikut.

Warisilah apinya, jangan abunya

Kalimat di atas dalam pandangan pribadi saya (dengan segala keterbatasan yang saya miliki), mengisyaratkan hendaknya kita belajar sebagai generasi bangsa tentang semangat Bung Karno. Tak hanya semangat dalam memperjuangkan kemerdekaan, tetapi banyak sekali semangat yang diwariskan beliau seperti semangat menulis walaupun di dalam penjara, semangat jiwa sosial yang tinggi, dan lain sebagainya.

Walaupun Bung Karno memiliki “api” yang sangat besar, beliau tak lepas dari yang namanya manusia dengan segala “abu” khilaf dan kesalahannya. Oleh karena itu, semangat api membara Soekarno harus kita teruskan dan kita wariskan dalam mempertahankan negeri kita tercinta ini.

Selamat Hari Pahlawan. Kucinta Pahlawan, Pahlawan Cintaku.
Bagikan:
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments