Eyang Sapardi, Kini Waktumu Abadi

Bagikan:

Hari ini, lagi, negeri ini kehilangan seorang maestro sastra yang sangat luar biasa. Eyang Sapardi Djoko Damono telah pergi, kembali abadi, 19 Juli 2020.

trilogi sapardi hujan bulan juni

Kepergian Eyang tentu meninggalkan duka yang mendalam. Tak hanya dukamu, dukaku, tapi duka kita semua. Saat inilah duka kita abadi. Eyang Sapardi, kini bagimu yang fana adalah bukanlah waktu.

Aku, Pertama Kali Mengenal Eyang Sapardi

Pertemuan para pecinta sastra akan selalu menjadi momen yang tak terduga. Dan perpisahannya pun sama. Pertemuan tatap muka yang selalu dibatasi saat pandemi sejatinya sudah berlaku sejak dulu bagi para penikmat sastra dalam buku. Aku bertemu Eyang pertama kali saat Hujan Bulan Juni.

hujan bulan juni

Jika kuhitung, itu sekitar hampir empat tahun yang lalu. Melalui Eyang Sapardi, aku bertemu Sarwono, nama lengkapnya Raden Sarwono Hadi.

Dari namanya, aku tau Sarwono iki Jowo. Entah emang lahir di Jawa atau karena orang tuanya dari Jawa, yang jelas ada darah Jawa dalam dirinya.

Ia sedang menaruh hati dengan sosok bernama Pingkan. Dari Sarwono itulah aku bertemu Pingkan.

Sosok perempuan – aku lebih suka menyebutnya perempuan dengan filosofi per.empu.an – yang cerdas seperti Pingkan mengajakku bertemu dengan Katsuo yang berasal dari negeri sakura, Jepang.

Nama Pingkan sendiri asing bagiku. Apalagi nama Katsuo. Setelah mengenal ceritanya lembar demi lembar, akhirnya aku tahu Pingkan dari Makassar dan Katsuo menyimpan rasa yang ia sendiri tak tahu mengapa.

Sampai di sini, aku merasakan cerita ini bukan hanya tentang asmara, tapi juga tentang budaya antardaerah bahkan bangsa.

Menamatkan novel Hujan Bulan Juni akan beda sensasi dengan menamatkan filmnya. Akan ada sensasi di mana harus segera mencari seri keduanya, yakni Pingkan Melipat Jarak.

Aku Bertemu Pingkan Melipat Jarak dalam Ketidakpastian

Membaca seri kedua ini membuatku seolah kembali merasakan rasa sakit ketidakpastian. Hujan Bulan Juni sendiri riwis-riwis romantis. Puisi-puisi yang dibuat Sarwono layaknya puisi-puisi yang kubuat dulu.

Puisi itu medium, dan medium itu dukun.

Dukun inilah yang menjadi medium dan membuat Sarwono dan Pingkan sama-sama dalam ketidakpastian.
Pingkan yang sudah berada di Jepang menjalankan kuliah layaknya biasa. Hubungan dengan Katsuo yang juga di Jepang pun berjalan biasa-biasa saja.

pingkan melipat jarak

Sarwono yang di Jawa tentunya banyak menyimpan hal-hal yang tak ia inginkan. Aku pernah merasakan sakitnya menahan buruk sangka dan hal-hal lainnya yang juga sama.

Aku karo Sarwono podo wong Jowo. Mungkin karena aku dan Sarwono sama-sama orang Jawa.

Di akhir cerita seri ini, Sarwono sakit. Aku sudah menduganya. Ia hanya manusia biasa. Sama seperti kita semua.

Aku hanya baru sampai sini.

Yang Fana adalah Waktu

Aku tak bisa cerita untuk seri ketiga yang belum kubaca. Bagi Eyang sekarang, ini sudah tak berlaku. Waktu Eyang sekarang abadi.

yang fana adalah waktu

Kini
Akan selalu ada sendu di balik relung rindu

Kini
Hanya karyamu yang akan menjadi suaramu

Kini
Duka kami yang abadi

Kini
Doa terbaik untuk Eyang akan mengalir layaknya romantisme hujan bulan ini
Juli, bulan saat Eyang pergi