Sosialisme Indonesia Pembangunan Ala Sjahrir (9)

posted in: Ceritaku | 0

Kita sudah sampai menjelang halaman puncak dari apa yang saya tulis tentang Sosialisme Indonesia Pembangunan Ala Sjahrir. Dan ini kita akan membahas halaman 196, 197, 198.

Nah, baca juga artikel sebelumnya tentang Sosialisme Indonesia Pembangunan Ala Sjahrir berikut. Oiya, review di Goodreads bisa kalian baca juga ya.

  1. Sosialisme Indonesia Pembangunan Ala Sjahrir
  2. Sosialisme Indonesia Pembangunan Ala Sjahrir 2
  3. Sosialisme Indonesia Pembangunan Ala Sjahrir 3
  4. Sosialisme Indonesia Pembangunan Ala Sjahrir 4
  5. Sosialisme Indonesia Pembangunan Ala Sjahrir 5
  6. Sosialisme Indonesia Pembangunan Ala Sjahrir 6
  7. Sosialisme Indonesia Pembangunan Ala Sjahrir 7
  8. Sosialisme Indonesia Pembangunan Ala Sjahrir 8

KEADAAN DAN TUGAS KITA [1]

I

Mahalnya kehidupan di negeri kita dewasa ini tak mungkin dibayangkan ataupun dimimpikan orang tiga atau empat tahun yang lalu. Umumnya jika dilihat sepintas-lalu pencaharian dan pendapatan uang, terlebih dari mereka yang mesti hidup dari upah dan gaji, tidak sesuai dengan keperluan-keperluan hidup yang pokok.

Seakan-akan pendapatan dan gaji hanya dapat menutupi bahagian terkecil dari keperluan-keperluan yang pokok itu. Meskipun segala-galanya mahal dan uang kelihatannya sangat berlebih-lebihan dalam peredaran, kesempatan untuk be-kerja, yaitu untuk memperolah rejeki secara halal, kurang.

sosialisme indonesia pembangunan

Kehidupan ekonomi nyata terus menjadi lebih sulit. Hanya kaum yang bermilik, meskipun miliknya itu hanya sebidang ta-nah tapi yang dapat ditanami, apalagi yang bermilik sebagai hartawan, yang kurang merasakan desakan kehidupan yang tambah hari terasa lebih mendesak itu. Oleh karena segala ini ketegangan dan kegelisahan di dalam masyarakat kita bertambah terus.

Dalam keadaan demikian dengan sendirinya suasana untuk bekerja pun terus bertambah buruk. Pekerja-pekerja lesu, selalu mangkir dengan alasan berusaha menambah pencahariannya. Hal ini sangat dirasakan di tempat-tempat bekerja pemerintah dan negara, di mana perbedaan gaji dengan keperluan hidup itu lebih besar daripada di perusahaan swasta.

Tapi perusahaan-perusahaan swasta pun menderita kelesuan dan kemunduran disebabkan oleh kekurangan yang lain pula, seperti kekurangan bahan-bahan baku, onderdil, dan lain-lain, sehingga banyak pula

yang terpaksa menghentikan pekerjaannya di perusahaan untuk sementara atau untuk selama-lamanya, atau memperkecil usahanya itu. Pertanian makanan pun mengalami sial pula, disebab-kan hama-hama atau oleh karena banjir atau malapetaka lain seperti letusan Gunung Agung di Bali. Panen padi pun tidak se-baik dan sebesar yang diharapkan.

Pertanian berdasarkan perburuhan, yaitu pertanian untuk ekspor, menderita kesulitan-kesulitan seperti industri biasa, yaitu kelesuan kaum buruh dan juga kekurangan onderdil, misalnya di pabrik gula, karet, minyak kelapa, dan sebagainya. Produksinya pun menurun.

Selain dari hasil bumi rakyat yang biasa menjadi bahagian besar pula dari ekspor, sebab harga hasil buminya itu di pasaran dunia dibanding dengan mata uang rupiah yang diperolehnya dari pemerintah sebagai ganti devisa yang dibuatnya, jauh kurang daripada harga hasil bumi itu di dalam negeri, dan pula kerap tidak cukup untuk menutup ongkos kerjanya sehingga orang pun tidak mengumpulkan karet rakyat dan hasil-hasil bumi yang lain yang biasanya dikumpulkan untuk diekspor.

Dengan berkurangnya hasil produksi umumnya yaitu per-tanian, industry, dan lain-lain, maka berkurang pula ekspor, oleh karena itu berkurang pula impor, dan dengan sendirinya transpor serta kegiatan berdagang dan berusaha lain pun kurang. Dipersulit lagi oleh karena alat-alat transpor pun menderita di-sebabkan taka da onderdil, sulit memperoleh ban dan sebagai-nya.

Sebaliknya, di saat bertambah lesu dan ciutnya kehidupan ekonomi, dunia perusahaan dan perdagangan itu, banyaknya uang yang diedarkan terus bertambah, malah makin lama makin cepat, oleh karena pengeluaran-pengeluaran pemerintah dan negara yang sangat besar.

Hal ini membuat bahwa harga-harga barang, yang tidak bertambah jumlahnya malah berkurang, memuncak ke langit secepat sputnik. Dan telah terasa bahwa perkembangan begini mesti berakhir dengan malapetaka ekonomi, yang pasti pula membawa akibat-akibat politis dan sosial.

——————————————————————

[1]  Naskah lepas, ditulis pada tahun 1963

Muhammad Faizin
Follow Faizin:

Writer and Developer

Dulu suka menulis kode dan sejenisnya sampe malem, sekarang juga masih. Kesukaan pada menulis cerita sedikit demi sedikit terpupuk, apalagi sebagai mantan anak sekolahan dengan cita-cita kuliah di luar negeri.