» » Sang Guru Tepat Waktu Telah Pulang

Sang Guru Tepat Waktu Telah Pulang

posted in: News | 0

Innaalillahi wa innaa ilaihi raaji’uun…kabar duka kembali menyelimuti kampus tercinta, Universitas Negeri Semarang, khususnya jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan. Sang dosen yang dikenal memiliki kedisiplinan sangat tinggi, Drs. Achmad Munib, S.H, M.H, M.Si. Saking panjangnya gelar beliau, kami para mahasiswa lebih akrab menyapa nama saja. Pak Munib, ya begitulah sapaan akrab kami kepada sang guru tepat waktu itu.

ucapan duka kepada sang guru tepat waktu
Berita duka pertama yang datang adalah saat Pak Munib mulai sakit. “RS Elisabeth Ruang Xaverius 206”, begitu ujar Pak Yuli sebagai rekan sesama dosen di grup WhatsApp Ikatan Alumni Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Unnes (IKA KTP Unnes). Sejak saat itu doa para alumni mulai mengalir agar segala penyakit diangkat (oleh Allah) untuk kesembuhan Pak Munib.

Keesokan harinya, tengah malam tepatnya pukul 02.51 WIB pada 26 November 2016, keluarga yang di rumah sakit mengabarkan bahwa Pak Munib telah berpulang ke sisi Allah pukul 02.15 WIB. Saya menulis artikel ini dengan maksud untuk mengenang apa yang beliau tinggalkan terutama dalam hal kedisiplinan sebagai sivitas akademika.

Selalu Semangat Belajar

Saya masih teringat saat menjadi mahasiswa beliau. Saat mengajar, Pak Munib tak hanya “mentransfer ilmu” layaknya sistem pendidikan yang kebanyakan dilakukan saat ini. Namun, beliau sering sekali memberikan cerita mulai dari flashback masa lalu, cerita pribadi, hingga cerita yang kekinian. Menariknya, beliau bercerita dengan asyik sekali layaknya seorang ayah yang menceritakan dongeng tidur untuk anaknya. Beliau juga sering menceritakan keberanian untuk berlatih bahasa Inggris.

Entah salah atau bener (grammar-nya) yang penting berani ngomong

Itulah yang saya ingat saat beliau menceritakan pengalamannya melanglang buana ke beberapa negeri yang ada di Bumi ini. Keberanian dalam berbicara itulah yang menjadikan beliau menjadi garda terdepan oleh rekan dosen untuk berbicara saat kegiatan studi banding dari kampus ke luar negeri.

Tak hanya itu, beliau juga selalu mencoba melatih kemampuan bahasa Inggrisnya untuk bercakap-cakap dengan dosen di kampus. Saya sendiri pernah melihatnya langsung saat beliau bercakap-cakap dengan logat yang tidak terlalu medok bahkan bisa dibilang lancar dalam beraksen asing. Semangat dan keberanian itu tertanam walaupun usia beliau sudah tak lagi muda.

Sang Guru Tepat Waktu

Begitulah sekiranya gelar yang patut beliau sandang selain gelar akademik yang panjang. Saat kuliah, saya masih teringat bermasalah soal waktu dengan beliau. Pertama adalah terlambat masuk kuliah sekitar 10 menitan (seingat saya). Telat satu detik aja sudah tidak boleh masuk kelas apalagi 10 menit. Gawatnya lagi, ternyata hari itu beliau memberikan ujian mid semester. Tak ada pengumuman minggu sebelumnya kalau hari itu akan ada ujian. Saat berangkat menuju kampus, saya berharap Pak Munib juga terlambat agar saya tetap bisa ikut perkuliahannya.

Ketika sudah diambang pintu kelas, terdengar jelaslah suara beliau dan bisa dipastikan saya telat hari itu. Dyaaarr…otak dan hati seketika bingung karena mitos yang beredar adalah dalam kamus Pak Munib tidak mengenal ujian susulan. Mendengar demikian pastilah nilai akhir untuk mata kuliah ini akan E dan mengulang semester depan.

Sedih dan apalah semua campur aduk saat itu. Namun, itulah konsekuensi tidak menghargai waktu yang diberikan oleh Sang Guru Tepat Waktu. Peluang terbuka saat ada teman yang menyusul juga terlambat dan akhirnya mulailah kami merayu beliau. Pak Munib sangat disiplin, tapi beliau selalu memberikan kesempatan kedua kepada para mahasiswanya.

Jika mengulangi kesalahan yang sama, tak ada ampun bagimu

Penguji dan Pembimbing yang Cermat dan Sangat Memperhatikan Tulisan Mahasiswa

Mungkin event sidang skripsi hingga revisi adalah saat saya berhadapan langsung secara rutin dengan Pak Munib. Penguji skripsi saya Februari kemarin adalah Pak Budi selaku penguji 1 dan Pak Munib selaku penguji 2 disertai Pak Wardi yang menjadi pembimbing sekaligus penguji 3. Berhadapan dengan ketiga dosen berilmu untuk yang pertama kalinya dalam suatu mimbar memang sangat menegangkan.

Ketegangan itu berlanjut lagi saat revisi skripsi sampai beberapa kali. Selama dibimbing dalam revisi dengan Pak Munib, saya masih ingat dengan kental bahwa beliau adalah sosok dosen yang cermat dan memperhatikan dengan jeli tulisan mahasiswa bahkan per kata. Ah, per huruf malah karena titik koma juga sangat beliau perhatikan.

Dengan sangat jeli beliau menekankan pentingnya menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar serta tepat dan jelas sesuai konteks yang digunakan.

Masih banyak sebenarnya kalau menceritakan sosok Sang Guru Tepat Waktu. Sebelum skripsi pun masih ada cerita berkesan saat harus mengejar waktu untuk menyerahkan naskah skripsi ke rumah beliau. Cerita itu tak akan cukup dalam beberapa artikel (lebay ya hehe).

Overall, siapapun akan selalu mengenang jasa beliau termasuk keteladanan akan menghargai waktu yang sampai saat ini masih terdengung di telinga para alumninya. Untuk menjadi bangsa yang hebat, hargailah waktu. Terima kasih dan selamat jalan, Pak Munib. Kau yang menghargai waktu akan menikmati tempat terindah dari Sang Pemilik Waktu. Amiin.

Berikut beberapa dokumentasi ketika prosesi menuju tempat peristirahan terakhir.

pengangkatan jenazah
Terlihat Pak Sugeng berada di depan ikut mengantar Alm. Pak Munib
prosesi di kediaman terakhir
Doa di pemakaman
ucapan duka alumni
Ucapan duka dari alumni
Muhammad Faizin
Follow Faizin:

Writer and Developer

Dulu suka menulis kode dan sejenisnya sampe malem, sekarang juga masih. Kesukaan pada menulis cerita sedikit demi sedikit terpupuk, apalagi sebagai mantan anak sekolahan dengan cita-cita kuliah di luar negeri.