» » Saatnya Movie Day : Inside Out

Saatnya Movie Day : Inside Out

posted in: Ceritaku | 0

Huray, weekend is coming. Sekarang akan ada artikel spesial weekend yang akan membahas film ya, guys. Sesekali dong biar refresh dengan film-film baru baik itu yang kekinian, kejadulan, keromantisan, dan apalah-apalah lainnya. Sebagai pembuka artikel weekend yang pertama, kita akan membahas tentang film animasi yang menurut saya sarat dengan nilai-nilai dalam kehidupan sehari-hari. Atau barangkali di antara kalian sudah ada yang menonton film animasi ini? Yup…sesuai judul artikel, kita akan membahas – istilah lebih kerennya adalah membedah – film yang berjudul Inside Out.

Kalau diperhatikan, film ini sepele sebenarnya yakni tentang seorang anak yang tidak suka pada rumah barunya. Akan tetapi, dengan polesan script writer, animator, dan sebangsanya yang keren, terciptalah animasi yang amazing seperti ini. Dalam film ini, dikisahkan seorang anak perempuan yang bernama Riley dengan lima “pemandu otak” di dalamnya. Just like Joy said, “Well, I know Riley’s head”, kita seolah-olah diajak membaca pikiran Riley. Bahkan, lima pemandu otak tersebut menentukan apa yang selanjutnya dilakukan Riley. Oh, great…Andai kalian bisa melihat lima pemandu otak itu dalam diri kalian, kira-kira apa yang akan kalian lakukan?

Okay…sebelum masuk ke inti film, akan lebih baik jika kita berkenalan terlebih dahulu dengan lima pemandu otak tersebut yakni Joy (si Riang), Sadness (si Sedih), Fear (si Takut), Disgust (si Jijik), dan Anger (si Marah). Coba saya hitung lagi, sudah lengkap lima kah? Okefine, complete. Sepertinya pembuat cerita film memiliki imajinasi yang tinggi pada sisi psikologi dan memahami dengan baik lima sisi sifat manusia yang paling mendasar ya. It’s just my opinion. Keren banget soalnya kalau dilihat dari segi pembelajaran berdasarkan perkembangan anak. Selanjutnya, mari kita ketahui tugas dari masing-masing pemandu otak tersebut.

Lima-Pemandu-Otak

  1. Joy
    Si Riang alias Joy – I think her full name is enjoy – memiliki tugas untuk menjaga Riley tetap bahagia. Sifat bahagia muncul pertama kali saat Riley lahir yang ditandai dengan senyuman. Selang beberapa detik kemudian, si Sadness muncul dengan memberi tanda bahwa Riley menangis. Seiring berjalannya waktu, muncullah si Disgust, Anger, dan Fear. Ketika Riley mulai tumbuh dan memulai masa kanak-kanaknya, peran si Joy ini sangat penting dan berpengaruh untuk membentuk core memory dalam kepribadian Riley. Si Joy disimbolkan dengan warna kuning dalam cerita ini.
  2. Sadness
    Seperti namanya, si Sadness berperan menjaga kesedihan Riley dan disimbolkan dengan warna biru. Dengan adanya Sadness, pada awalnya Joy yang memiliki karakter berkebalikan merasa harus membatasi keluarnya sifat Sadness dan memastikan Riley selalu bahagia. Namun, di akhir cerita kalian akan melihat keakraban antar si Joy dan Sadness untuk membentuk “pulau kepribadian” baru. It’s my favorite scene 😀
  3. Fear
    Setiap sifat takut memang pasti ada ya dalam diri manusia. Itulah alasan penulis cerita memasukkan si Fear sebagai bagian dari salah satu sifat Riley. Fear berperan menjaga emosi Riley dari sifat takut. Menuju puncak klimaks, kalian akan melihat peran Fear untuk membangunkan Riley dari tidurnya di tengah malam karena ketakutan akan badut ulang tahun. Si Fear disimbolkan dengan warna ungu dalam cerita ini.
  4. Disgust
    Karakter yang disimbolkan dengan warna hijau ini ditampilkan dengan memiliki sifat centil banget (menurut saya). Namun, itu justru sangat mencerminkan karakter seorang Disgust yang jijik terhadap hal yang tidak disukai Riley termasuk melihat tikus mati di rumah barunya.
  5. Anger
    Si Anger digambarkan sebagai karakter yang memiliki magma di atas kepalanya dan magma itu akan keluar tatkala dia marah. Ya, itulah peran si anger untuk memberikan rasa marah pada si Riley. Sesuai dengan warna magma, Anger disimbolkan dengan warna merah dan saya rasa memang itulah warna yang pantas ketika marah muncul. Nice try…

Sudah mengenal kelima karakter di atas? Okey, mari kita lanjut ke konflik. Ketika konflik terjadi, kalian akan melihat kombinasi antara Fear, Disgust, dan Anger yang sangat buruk tanpa adanya si Joy dan Sadness. Oleh karena itu, pastikan kalian tetap memiliki sifat bahagia dan sedih di manapun kalian berada untuk menjaga ketiga sifat yang lain ya hehe.

Konflik dimulai saat Sadness yang memiliki sifat berkebalikan dengan Joy memegang core memory si Riley. Siapa yang pertama kali marah? No, bukan si Anger. Yang pertama kali marah pastinya dia yang memiliki sifat berkebalikan dengan si Sadness apalagi semua yang ada di core memory pada saat itu adalah memori kebahagiaan. Bisa kalian tebak siapa dia? Yes, she is Joy.

Sadness memegang bola memori

Saat Joy melihat Sadness memegang core memory, Joy mulai membatasi Sadness untuk bergerak karena jika Sadness memegang memori apapun maka memori tersebut akan berubah menjadi berwarna biru seperti Sadness dan akan muncul kesedihan di dalamnya dan warna bola memori itu tidak bisa kembali ke warna semula. Saat itulah core memory berantakan apalagi setelah Sadness mendapatkan core memory pertamanya yang berwarna biru menyala. Pertengkaran demi mempertahankan core memory berlanjut yang mengakibatkan Joy dan Sadness tersedot dan terlempar ke ruang long term memory. Anehnya, saya juga tidak tau mengapa, si Joy dan Sadness ketika bertengkar tidak ada rasa benci sama sekali di antara mereka. Mereka hanya tetap membawa sifat masing-masing seperti biasanya yakni bahagia dan sedih. Hmmm…lalu dari mana ya sebenarnya rasa benci itu ada dalam diri kita? Kombinasi karakter apakah? Hehe…never mind, lanjut ke cerita.

Saat Sadness dan Joy tersedot ke ruang long term memory, mereka membawa core memory masing-masing. Inilah saat di mana semua pulau kepribadian Riley padam dan di ruang pusat kendali hanya ada Disgust, Fear, dan Anger yang mempengaruhi sifat Riley. They’re bad combination. Joy dan Sadness pun berusaha kembali ke ruang pusat untuk mengembalikan core memory Riley dan memastikan dia tetap baik-baik saja. Btw, lima core memory awal yang ada dalam cerita akan membentuk lima “pulau memori” yang terdiri atas Goofball Island, Friendship Island, Hockey Island, Honesty Island, dan Family Island.

Lima Pulau Kepribadian dan Ruang Pusat

Dalam perjalanan menuju ke ruang pusat, Joy dan Sadness mengalami banyak petualangan seperti bertemu Bing Bong, membangunkan ketakutan terbesar Riley yakni si Badut Sulap, bertemu dengan para teknisi memori dan dream maker di dalam memori Riley, dan banyak lagi.

Bing-Bong teman imajinasi Riley

Semakin lama Joy dan Sadness tidak kembali ke ruang pusat dan mengembalikan core memory, maka satu per satu Island akan runtuh karena si Riley sudah tidak memiliki keindahan dalam hidup yang bisa ia ingat. Bayangkan saja jika kalian tidak mampu mengingat hal-hal indah atau berkesan entah sedih ataupun senang dalam hidup kalian. Pertemuan dengan Bing Bong mampu menuntun Joy dan Sadness untuk kembali ke ruang pusat bahkan Bing Bong membantu Joy keluar dari lembah penghapusan memori. Lembah penghapusan memori adalah tempat memori yang telah usang dan telah dilupakan Riley yang selanjutnya akan dihapus selamanya dari memori Riley. Sedihnya, demi menyelamatkan Joy, Bing Bong rela tetap terjebak di lembah penghapusan memori dan terhapus dari ingatan Riley (forever). Semoga saja ya pada episode selanjutnya kita akan melihat Bing Bong kembali dalam ingatan Riley coz he is so funny hope.

Bing-Bong, Joy, and Sadness

Saat Family Island hampir runtuh dan itu merupakan jembatan terakhir bagi mereka untuk pulang ke ruang pusat, Sadness pun mulai merasa dirinya tak berharga dalam kehidupan Riley dan hanya menimbulkan kesedihan (ya harusnya Sadness sadar sih itu memang tugasnya haha). Joy yang terus bersemangat walaupun harapan sudah hampir hilang, sadar akan pentingnya peran Sadness dalam kehidupan Riley. Akhir cerita, Joy berhasil memulihkan keyakinan Sadness dan berhasil kembali ke ruang pusat. Joy menyerahkan semua core memory untuk disentuh Sadness agar Riley merasa sedih tentang apa yang telah dilakukannya dan mengingat kembali masa lalunya bersama orang tua dan kawan-kawannya.

Yup, always happy ending in the end. Riley pun kembali kembali bahagia dengan semangat di rumah barunya bersama orang tuanya. Core memory yang telah runtuh akhirnya tumbuh kembali berkat lima “pemandu otak” dan kali ini bukan hanya warna kuning saja tetapi kombinasi dari berbagai warna yang membentuk core memory baru dalam kehidupan Riley.

New Islands

Konsol baru untuk lima pemandu otak juga telah disiapkan. Riley’s growing up, she is more complex now. So, more button is needed to play 😀

New Console

Muhammad Faizin
Follow Faizin:

Writer and Developer

Dulu suka menulis kode dan sejenisnya sampe malem, sekarang juga masih. Kesukaan pada menulis cerita sedikit demi sedikit terpupuk, apalagi sebagai mantan anak sekolahan dengan cita-cita kuliah di luar negeri.