» » KLDBD: Review Novel Biografi Hasyim Asy’ari

KLDBD: Review Novel Biografi Hasyim Asy’ari

posted in: Ceritaku | 0

Sosok yang satu ini sungguh sangat dikenal oleh umat Islam dan kondang bahkan hingga tanah suci. Siapakah beliau? Tak lain tak bukan adalah Mbah Hasyim Asy’ari. Selain sebagai pendiri pondok pesantren Tebuireng, beliau juga sebagai perintis berdirinya Nahdlatul Ulama. Dalam artikel ini, saya akan mengajak kalian untuk menelisik sedikit cerita tentang Mbah Hasyim Asy’ari yang tertuang dalam novel biografi karangan Aguk Irawan yang berjudul Penakluk Badai.

novel biografi mbah hasyim penakluk abadai

Masa Kecil Hasyim Asy’ari

Hasyim Asy’ari adalah putra dari Nak Mas Asy’ari (panggilan waktu muda) dan ibu Halimah (Nyi Winih). Hasyim ada di dalam kandungan ibunya lebih dari setahun. Itulah prasangka awal dari sang nenek yakni Nyai Layyinah bahwa anak yang akan lahir dari perut putrinya akan menjadi pemimpin atau ulama masyhur pada zamannya kelak.

Hari demi hari, Hasyim semakin menunjukkan kecerdasannya yang luar biasa. Tak hanya ia cepat menyerap pelajaran dari para gurunya di pondok, ia juga tumbuh dengan akhlak yang mulia yang tak disangka kedua orang tuanya. Salah satu tindakan yang membuat Nyi Winih sempat geram adalah saat Hasyim bermain dengan teman-temannya dan mengajak mereka makan. Persediaan makanan di rumah yang biasanya disediakan Nyi Winih sering habis lebih cepat karena Hasyim mengajak teman-teman bermainnya saat lapar.

Mendirikan Pondok Pesantren Tebuireng

Awalnya Tebuireng adalah daerah yang penuh dengan begal, pelacur, dan pemabuk yang setiap hari tak akan sepi dengan kegiatan maksiat mereka. Perjuangan Mbah Hasyim dalam menyebarkan agama Islam dan mendirikan pondok di Tebuireng untuk amar ma’ruf nahi munkar pun tak mudah. Permusuhan dari penduduk setempat sangat sering beliau dan santrinya alami. Namun demikian, Mbah Hasyim tetap sabar dan mengajak para santrinya untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Malah sebaliknya, mbah Hasyim dan para santri memberikan teladan yang baik agar masyarakat bisa mandiri secara ekonomi dari perbudakan kolonial karena tanah yang dimiliki disewa dengan sangat murah untuk kepentingan kolonial.

Tindakan yang sangat menguji keimanan mbah Hasyim dan para santrinya adalah saat pondok hingga masjid mereka dibakar habis-habisan karena fitnahan yang diluncurkan oleh sebagian penjahat yang bekerjasama dengan kolonial. Pada dasarnya, penjahat dan kolonial itu sama-sama memusuhi mbah Hasyim karena tidak senang teman-teman maksiat mereka semakin berkurang dan mengikuti dakwah mbah Hasyim di Tebuireng.

Mbah Hasyim dan para santri yang dituduh memukuli kawan penjahat itu dan dikatakan telah mati meminta pertanggungjawaban dengan pilihan yakni nyawa dibalas nyawa alias mbah Hasyim harus menyerahkan dirinya atau salah seorang santri untuk dibunuh atau pondok akan dibakar. Walaupun pada dasarnya mbah Hasyim bisa mengelak karena tidak ada bukti yang shohih tentang kematian kawan penjahat itu (bahkan kuburannya sekalipun), tetapi mbah Hasyim memilih ikhlas meninggalkan pondok.

Akhirnya dibakarlah pondok Tebuireng seiisinya. Pilihan yang berat itu tak menyurutkan niat beliau untuk berdakwah. Dengan semangat gotong royong para kyai dan ulama serta para santri, Tebuireng akhirnya bangkit kembali bahkan jauh lebih baik.

Nasionalisme yang Tinggi

Sebagai tokoh agama yang menjadi panutan banyak guru bangsa termasuk Soekarno dan Hatta bahkan HOS Cokroaminoto sekalipun, mbah Hasyim memiliki sokap nasionalisme yang tinggi dan sangat cinta tanah air. Dalam perjuangannya, beliau juga pernah menikmati kesengsaraan dalam penjara dan menikmati cabutan kai kuku dengan tang yang dilakukan oleh Belanda.

Kesengsaraan tersebut justru semakin menjadikan beliau semangat membela tanah air dan memperjuangkan kemerdekaan bersama para santrinya. Bahkan beliau pernah meminta pada putranya, Yusuf Asy’ari, agar diajari menggunakan pistol untuk menghadapi Belanda.

Muhammad Faizin
Follow Faizin:

Writer and Developer

Dulu suka menulis kode dan sejenisnya sampe malem, sekarang juga masih. Kesukaan pada menulis cerita sedikit demi sedikit terpupuk, apalagi sebagai mantan anak sekolahan dengan cita-cita kuliah di luar negeri.