» » DeMagz – Local Hero : Ibu Istiqomah

DeMagz – Local Hero : Ibu Istiqomah

posted in: News | 0

Kali ini tim Lumpia Studio akan memberikan cerita baru terkait kegiatan tulis-menulis yang dilakukan bersama kawan-kawan literasi di Demak Kota Wali. Salah satunya adalah bersama tim redaksi Majalah Demak dengan nama Demak Magazine (DeMagz).

Ibu Istiqomah
Ibu Iqtiqomah berada di depan dengan kerudung kuning

 

DeMagz Local Hero

Salah satu topik yang dibahas dalam DeMagz adalah tentang local hero atau tokoh-tokoh lokal yang memberikan mampu memberikan kontribusi agar Demak lebih maju. Nah, berikut ada tulisan dari Mbak Dian Nafi tentang Ibu Istiqomah yang senantiasa berjuang untuk memajukan pendidikan di daerahnya. Bagaimana kisahnya? Cus langsung baca ajah 😀

Ibu Istiqomah

Semangat perjuangan beliau mungkin meniru ayahnya, seorang pejuang kemerdekaan. api dia merawat, menyiram dan menumbuhkembangkan bibit semangat perjuangan yang sudah ada dalam dirinya. Semangat tersebut kemudian terinternalisasi sedemikian rupa sehingga tak ada langkahnya yang sia-sia dan tak diabdikannya bagi lingkungan terdekat maupun masyarakat yang lebih luas.

“Orang hidup itu harus punya cita-cita“, ungkap beliau.

Tak henti-hentinya bulikku, adik bapakku ini , terus menerus memompakan semangat kepada siapa saja yang di dekatnya.

Bahkan kehidupan pribadinya sendiri sebenarnya banyak mengundang iba karena beliau ditinggal suami yang meninggal dalam kecelakaan lalu lintas. Dengan lima anak putra putri, tentu saja gaji seorang guru sekolah swasta tidaklah memadai. Akan tetapi beliau banyak mengorbankan waktu dan tenaganya bagi banyak orang.

“Bekerja itu seperti menanam pohon. Berkorban itu adalah pupuk yang mempercepat pertumbuhannya. “, ucapnya suatu ketika.

Mengingatkanku pada ungkapan yang pernah kubaca bahwa bekerja dan berkorban adalah tradisi kebangkitan dan kepemimpinan.

Ia meneruskan pondok pesantren dan madrasah yang dulu dirintis dan dibangun bersama almarhum suaminya. Didirikan dengan modal sendiri yang seadanya, di sebuah lahan yang hampir tidak dilirik orang pada umumnya. Karena dekat dengan perumahan kumuh dan kuburan orang cina (bong). Sebuah lingkungan yang pada mulanya tidak nyaman untuk ditinggali.

“Bismillah…”, ucap beliau dengan mantap.

Lokasi itu memang sengaja dipilihnya. Jadi bukan semata karena harga tanahnya murah dan terjangkau oleh doku atau sakunya, namun juga pertimbangan bahwa mereka akan membuat sebuah pusat kegiatan belajar mengajar. Sehingga masyarakat sekitar yang kebanyakan pengemis dan pemulung serta orang – orang miskin yang kurang bahkan tidak berpendidikan, akan memperoleh pencerahan. Agar putra putri generasi penerus yang tinggal di lingkungan tersebut menjadi generasi yang lebih baik. Subhanallah. Sebuah cita-cita yang sangat mulia yang bahkan berangkat dari keterbatasan dan kesederhanaan. Apa adanya.

“Modal nekat saja. Tawakkaltu ‘alallah”, demikian beliau menjelaskan.

Madrasah dengan beberapa guru yang dibayar dengan gaji yang tidak memadai semata untuk bentuk jariyah. Menyumbangkan ilmu yang semoga bermanfaat.

Darul Aitam (panti asuhan) juga didirikannya. Banyak anak-anak tak berayah dan tak beribu yang tertolong dan terlindungi. Alhamdulillah setelah berlangsung dengan baik selama setahun, kemudian banyak juga yang turut memikirkan kelangsungannya.

Pengajian Alquran setiap ba’da maghrib yang melibatkan adik iparnya yang hafidzoh sebagai guru,, diikuti oleh puluhan anak. Mungkin sampai hampir seratus anak. Beliau sendiri mengajar Alquran untuk orang tua mereka.

“Sebaik – baik orang adalah yang mengajarkan Alqur’an”, ucap beliau.

“Bekerja adalah simbol keberdayaan dan kekuatan. Berkorban adalah simbol cinta dan kejujuran.”, penjelasannya ini menggambarkan bagaimana energi beliau bertumbuh kembang.

Mengatur waktu antara bekerja sebagai guru yang idealis, ketua sebuah organisasi perempuan Islam sekabupaten, dan memiliki seabrek kesibukan di pesantren dan madrasahnya, memang sedikit banyak mengurangi porsi waktu dan perhatiannya bagi anak-anaknya. Tapi kalau dipikir lagi, jika tak ada yang bersemangat seperti beliau, siapa yang akan melakukan pekerjaan-pekerjaan heroik tak bergaji, tak bersertifikat dan tak berpenghargaan..

“Bangsa bisa bangkit karena para pemimpin bisa memimpin”, sebuah pemikiran dari beliau yang mematahkan asumsi orang kebanyakan yang mengira tak ada lagi orang yang bisa menjadi pemimpin sejati, karena pasti ujung-ujungnya duit.

“Cuma mereka yang mau bekerja dalam diam yang panjang, terus menerus berkorban dengan cinta, yang akan bangkit dan memimpin”, sambung beliau.

Terus menerus berarti Istiqomah, seperti nama beliau. Sang Guru Kehidupan yang menghidupkan rumahnya untuk menghidupkan kehidupan termasuk kehidupan sesudah kematian. Tentu saja atas pertolongan-Nya yang Maha Hidup dan Menghidupkan.

Muhammad Faizin
Follow Faizin:

Writer and Developer

Muhammad Faizin
Latest posts from